Kenali Tetenger Lainnya
Tetenger

Tetenger Simon Slamet

Padukuhan Daleman, Kalurahan Girikerto, Kapanewon Turi

Informasi Lokasi

Jenis

Tetenger

Status

Aktif

Koordinat Lokasi

Latitude: -7.6362773

Longitude: 110.3868951

Mengenal Tetenger

Dibangun oleh : Masyarakat Waktu Peristiwa : 26 April 1949

Latar Belakang

Pada masa Agresi Militer Belanda II, wilayah pedesaan di lereng merapi tidak lepas dari pergulatan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah Yogyakarta diduduki Belanda pada Desember 1948, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung melalui pertempuran terbuka antara pasukan militer, namun juga melalui gerilya, pengamanan wilayah, dan melibatkan masyarakat. Di kawasan utara Kabupaten Sleman, termasuk wilayah Turi, masyarakat menghadapi ancaman pergerakan pasukan Belanda sehingga mendorong keterlibatan warga dalam menjaga keamanan lingkungan. Kawasan Girikerto, Turi menjadi salah satu ruang penting dalam rangkaian perjuangan, berbagai kalangan seperti pasukan republik, laskar rakyat, pelajar dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pergerakan pasukan Belanda dengan menjaga keamanan, mengawasi pergerakan pergerakan pasukan Belanda, menyampaikan informasi di berbagai wilayah. Peristiwa Daleman dan siasat pasukan Belanda Peristiwa Daleman merupakan salah satu rangkaian perjuangan rakyat dalam menghadapi pasukan Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II. Peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai serangan yang sebelumnya dilakukan di wilayah Ngaglik. Serangan-serangan tersebut ditandai dengan bunyi kentongan yang saling bersahutan. Pada masa itu, kentongan menjadi salah satu sarana komunikasi masyarakat, karena bunyi kentongan sebagai penanda bahaya sekaligus untuk mengumpulkan warga ketika terjadi bahaya. Hal tersebut kemudian diduga dimanfaatkan Belanda untuk menjalankan siasat pengecohan. Pada dini hari 26 April 1949, terdengar bunyi kentongan yang saling bersahutan dari sejumlah wilayah di sekitar Daleman. Masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan kentongan menganggapnya sebagai isyarat adanya gerakan perlawanan terhadap Belanda. Masyarakat Daleman dan wilayah sekitarnya kemudian keluar rumah dengan membawa senjata seadanya. Akan tetapi, situasi yang mereka hadapi ternyata berbeda dari yang diperkirakan. Pasukan Belanda telah bersiap di sepanjang jalur rel lori di sebelah utara permukiman yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut hasil tebu menuju Pabrik Gula Medari. Dengan demikian, bunyi kentongan yang semula dipahami sebagai tanda untuk melakukan perlawanan justru menjadi bagian dari siasat yang membuat warga keluar dari tempat perlindungan. Merawat ingatan perjuangan rakyat Keberadaan Tetenger Simon Slamet bukan sekadar penanda makam seorang pejuang. Tetenger ini menjadi pengingat tentang keterlibatan masyarakat desa dalam mempertahankan kemerdekaan, terutama melalui tugas pengamanan, penyampaian informasi, dan keberanian menghadapi ancaman militer. Simon Slamet menjadi representasi pemuda desa yang turut mengambil bagian dalam perjuangan sesuai dengan kemampuannya. Kisahnya menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya ditopang oleh tokoh-tokoh besar dan pasukan bersenjata, tetapi juga oleh masyarakat sipil yang mempertaruhkan keselamatan demi menjaga tanah kelahirannya. Tetenger Simon Slamet menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan di medan pertempuran besar, namun juga lahir dari keberanian masyarakat desa, dari kesediaan menjaga sesama, dan dari pengorbanan mereka yang namanya mungkin tidak banyak dikenal dalam catatan sejarah nasional.

Peristiwa Sejarah Perjuangan

Pejuang yang Gugur

Salah seorang pemuda yang terlibat dalam peristiwa tersebut adalah Simon Slamet, warga Padukuhan Daleman, Girikerto, Turi. Simon Slamet adalah anggota laskar rakyat yang turut menjaga keamanan wilayahnya. Saat mendengar bunti kentongan, Simon Slamet turut bergerak dan berlari menuju jalur rel lori untuk memberitahukan keberadaan pasukan Belanda kepada Komando Onder Distrik Militer (KODM) Turi dan warga lainnya. Akan tetapi, ketika berada di sekitar jalur tersebut, Simon Slamet ditembak oleh pasukan Belanda dan gugur di tempat. Gugurnya Simon Slamet menjadi salah satu bagian dari perjuangan masyarakat Daleman dalam menghadapi operasi militer Belanda. Ia bukan seorang tokoh militer berpangkat tinggi, atau pemimpin pasukan besar. Perannya justru memperlihatkan bagaimana pemuda desa turut terlibat dalam perjuangan melalui tugas-tugas pengamanan lingkungan dan penyampaian informasi. Setelah peristiwa tersebut, masyarakat bergotong royong membawa dan memakamkan jenazah Simon Slamet di dekat kandang ternak milik keluarganya. Proses pemakaman dilakukan dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian pasukan Belanda yang masih berada di sekitar wilayah tersebut. Seiring berjalannya waktu, masyarakat berinisiatif untuk memindahkan makam Simon Slamet. Kemudian pada tahun 1987, makam Simon Slamet dipindahkan ke lokasi yang sekarang dan dibangun monumen sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya. Pendirian monumen dilakukan di atas tanah kas desa dengan luas sekitar 400 m².

Sumber Sejarah

Dinas Sosial Kabupaten Sleman. 2000. Tempat-Tempat Bersejarah Perjuangan Bangsa Kabupaten Sleman. Sleman: Dinas Sosial Kabupaten Sleman Fadilla, Syafa Nafisa, Malika Nabichati Musyafa, dan Bramanansyah Anantasworo. 2024. “Tetenger Simon Slamet: Aksi Heroik yang Terlupakan Namun Penuh Makna.” dalam Tetenger dan Memori Peristiwa Masa Lalu. Sleman: Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

Kuis Tetenger

Kuis untuk tetenger ini belum tersedia.

Pesan & Kesan

Baca pengalaman pengunjung dan bagikan kesanmu.

Belum ada penilaian bintang untuk tetenger ini.